APAKAH PENDIDIKAN SEKS PERLU DIMASUKKAN DALAM KURIKULUM SEKOLAH ?

Oleh: KI. SONHAJI MUTIALLAH, M. MPd

 

 

Berapa banyak jumlah anak-anak remaja yang secara diam-diam mengeluh di dalam hatinya tentang masalah seks. Pengetahuan seks benar-benar kabur dalam pandangan mereka, karena sudah merupakan hal yang klasik apabila di dalam hal ini para orang tua kurang dapat menjalankan kewajibannya dalam memberikan pengarahan yang semestinya dalam memberikan pendidikan seks kepada para putera-puterinya pada saat-saat mereka memerlukannya. Dan sekolah yang diharapkan dapat memberikan bantuannya di dalam hal ini juga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dengan berbagai macam alasannya secara tersendiri….

Maraknya peredaran film porno dan mudahnya mengakses situs porno akan merusak mental para remaja. Kondisi itu diperparah oleh minimnya pengetahuan tentang pendidikan seks, sehingga banyak remaja yang terjerumus dalam pergaulan seks bebas(free sex), pelecehan seks, pemerkosaan/ kekerasan seks. Akibatnya beresiko meningkatnya jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), ujung-ujungnya, mereka melakukan aborsi alias menggugurkan janin secara ilegal. Jumlah remaja yang menjadi pelaku hubungan seks pranikah dan pemaksaan hubungan seks cenderung meningkat setiap tahuan. Berdasarkan data terbaru dari Sebaya PKBI Jatim terdapat 149 remaja pelaku hubungan seks pranikah yang menjalani konseling dalam setahun terakhir. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 127 remaja , dan ada 52 remaja korban pemaksaan hubungan seks yang menjalani konseling. Sementara itu The United National Population Fund (UNFPA), menemukan sekitar 15 % remaja sudah berhubungan seks pranikah, juga ditemukan remaja terjangkit HIV (jawa Pos:2/2/2011). Sementara temuan BKKBN bahwa 51 % remaja putri di jabotabek sudah tidak perawan  sungguh miris (detik com 29/11/2010).

Banyak remaja yang terjebak dalam mitos-mitos seputar permasalahan seks. Benarkah remaja kurang memahami masalah seks ?  sebagai kelompok terbesar di Inonesia, remaja menjadi fokus perhatian dan intervensi yang strategis bagi pembangunan bangsa. Diharapkan para remaja mampu berperan serta membangun bangasa dan melanjutkan apa yang telah di perjuangkan generasi sebelumnya.Tetapi, globalisasi ternyata memberikan pengaruh yang cukup nyata dalam masyarakat. Terutama dikalangan remaja. Nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat perlahan-lahan mulai tampak kabur. Selain itu, dengan globalisasi, informasi dari segala penjuru dunia dapat di akses dengan cepat dan mudah. Disinilah, penyebab informasi yang sedemikian cepat dan ditambah keingintahuan remaja tentang masalah seks yang begitu besar sering mengakibatkan remaja mengalami perubahan pola pikir. Perubahan itu mempengaruhi cara pandang remaja terhadap seksualitas dan membentuk perilaku seksual tersendiri.

Harus dipahami  bahwa pada masa remaja, akan mengalami perubahan fisik yang berlangsung sangat cepat dan mulai tampak matang, termasuk kemampuan untuk bereproduksi. Biasanya disebut dengan fase pubertas. Fase Pubertas merupakan bagian yang sangat penting dalam perkembangan seksualitas seseorang. Sebab, pada fase itulah. Secara seksual, ia mulai berfungsi secara sepenuhnya. Pada fase ini anak secara biologis sudah dianggap dewasa. Pubertas sering dianggap sebagai masa gawat , sehingga banyak orang tua yang cemas melihat anaknya yang memasuki fase puber. Banyak orang menganggap bahwa fase puber merupakan masa pancaroba(”sturm and drang”), fase paling gawat sepanjang sejarah perkembangan manusia. Anggapan itu terlalu dilebih-lebihkan, sebenarnya fase puber adalah salah satu saja dari fase fase yang harus dilalui oleh manusia. Memang pada fase ini remaja sering melakukan penyelewengan apa lagi bila mereka tidak paham dengan pendidikan seks.Maraknya kasus pencabulan dan pembunuhan yang berawal dari masalah asmarah, dan survei salah satu media menyebutkan bahwa jumlah remaja yang mengalami hubungan seksual di luar nikah sangat tinggi, sekitar 54 % siswa-siswi SMP SMA di Surabaya pernah melakukan hubungan seks. Kasus ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti Surabaya, tetapi sudah sampai di kota-kota kecil. Ada beberapa siswi sekolah lanjutan yang hamil sehingga di ancam oleh sekolah ,tidak diperbolehkan mengikuti ujian . Ini semua dilakukan oleh remaja yang masuk dalam fase pubertas(usia SMP- SMA).

Pandangan Salah Tentang Seks

            Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat memandang seks dengan berbagai macam cara. Biasanya orang mengenggap seks dengan dua sudut pandang yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Disatu pihak seks di hubungkan dengan segala yang cabul, menjijikakan, dan kotor, tetapi dilain pihak seks dipandang sebagai sesuatu yang mengasikkan dan menggairahkan. Secara terbuka orang sering mengutuk di putarnya ”film seks”, tetapi secara sembunyi-sembunyi orang itu berusaha untuk dapat menyaksikan film itu.. Orang selalu menghindari pembicaraan tentang seks di hadapan anak kecil atau orang lain yang kurang di kenal. Orang tua akan marah mendengar anak kecilnya berbicara tentang atau menyebut istilah seks yang dianggapnya jorok. Akan tetapi , secara diam-diam orang suka membaca atau mendengar yang dianggap porno itu.

Seks :Makna yang Benar

Luther Gulick, mengatakan”Sex In Human Life be Rightly Interpreted in Term of Affection,”(sek pada kehidupan manusia dapat di tafsirkan dengan benar hanya dalam hubungannya  dengan kasih sayang). Jadi pengaitan  seks dengan hal-hal yang kotor atau cabul pada hakekatnya menyalahi makna dari seks itu sendiri.

Pro dan Kontra Terhadap Pendidikan Seks.

            Sejak lama dan mungkin masih akan lama lagi di masyarakat terdapat golongan yang pro dan yang kontra terhadap pemberian pendidikan seks, masing –masing dengan argumentasinya. Alasan yang menolak pendidikan seks antara lain ialah adanya kekhawatiran, setelah tahu seluk beluk seks, anak/orang akan cenderung untuk menyalah gunakan pengetahuan yang telah didapatnya. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seks tidak perlu, sebab secara alami mereka akan memahami apabila sudah memasuki masa pernikahan.

Mereka yang pro terhadap pendidikan seks mengajukan argumentasi lain. Adanya kumpul kebo, seks bebas, dan pemerkosaan tidak dapat dikatakan sebagai akibat diberikannya pendidikan seks. Memang, terdapat fakta  adanya pendidikan seks di satu pihak, dan fakta ” kebobrokan  masyarakat” dilain  pihak, tetapi kedua fakta itu tidak dalam hubungan sebab-akibat. Seperti juga, terdapat fakta pendidikan Agama/PKn di satu pihak, dan fakta perkelahian pelajar dan penggunaan narkobadi lain pihak. Kedua fakta ini jelas tidak memperlihatkan adanya hubungan sebab-akibat. Yang dapat kita renungkan ialah justru kalau keadaan sudah separah ini, pendidikan agama/PKn tidak diberikan, apa jadinya ? itu dapat kita pikirkan sehubungan dengan pendidikan seks, untuk menanggulangi dan mencegah penyelewengan/atau kejahatan seksual, sebaiknya kaum muda di beri pendidikan seks.

Banyak orang menduga bahwa pendidikan seks hanya bersangkutan dengan pemanfaatan alat reproduksi. Bahkan bagi orang yang karena menganggap seks identik dengan kebejatan dan segala yang menjijikan, pendidikan seks berarti mengajari anak berbuat bejat atau kotor.

Pada dasarnya pendidikan seks dapat diartikan sebagai pendidikan tentang tingkah laku yang baik, sehubungan dengan masalah-masalah seks dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemasyarakatan. Jadi yang diutamakan  adalah pendidikannya, bukan seksnya. Walaupun pada pendidikan seks memang tidak dapat dihindari pembahasan pengetahuan tentang seks. Jadi pendidikan seks dimaksudkan sebagai penerangan tentang kehidupan yang wajar atau sehat selama masa kanak-kanak sampai dewasa..

Mengapa Pendidikan seks perlu ?

            Lebih dari setengah abad yang lalu barangkali orang tidak merasa perlu memberikan pendidikan seks, seperti yang diperlukan untuk anak-anak dan generasi muda sekarang. Ketika itu setiap anggota masyarakat juga dan terutama anak-anak dan remaja, hidup dengan aman  tenteram dan memiliki emosi yang seimbang. Tidak seperti sekarang di rumah dan sekolah anak harus berkelakuan manis, sedang di luar telah menghadang segala ajakan dan pengaruh mulai dari sajian pornografi di media, majalah dan terlebih-lebih internet yang sangat dahsyat mempengaruhi anak-anak, sehingga banyak anak –anak yang sudah berani melakukan hubungan seks(seks bebas). Ini semua akibat gencarnya internet merasuki generasi mudah sekarang, inilah yang menjadi konflik dalam dirinya, sehingga mengakibatkan stres dan selanjutnya mengakibatkan penyimpangan tingkah laku seksual. Suatu lingkaran setan yang memilukan.

Kini terjadi perubahan besar, kita menyaksikan pendidikan seks yang tertutup dirumah maupun disekolah (seperti jaman dulu), tetapi kita juga melihat ”pendidikan seks” yang tak terkendali di masyarakat. Dimasyarakat sekarang meraja lela segala macam yang berbau seks,misalnya; diskotik, panti pijat, iklan TV, buku-buku,  internet dan sebaginya.

Setiap orang tua tentu dengan segala usaha memberikan pendidikan kepada anaknya mengenai sopan santun dan agama sedini mungkin, walaupun secara formal orang berkewajiban menjalankan kesopansantunan dan kewajiban agama ketika sudah berusia awal belasan tahun(kira-kira pada awal adolesen). Orang berpendapat bahwa sangat terlambat apbila seseorang baru mulai belajar sopan santun atau agama setelah atau beberapa saat sebelum akil balik. Ini juga berlaku untuk pendidikan seks. Apabila pendidikan seks baru di berikan setelah atau menjelang anak menginjak masa remaja(adolesen) maka ini sudah sangat terlambat. Pada saat itu sudah hampir pasti anak telah memperoleh informasi mengenai seks dari sumber lain(teman, film, bacaaan, internet, orang dewasa) yang belum tentu benar dan dapat di pertanggungjawabkan, bahkan kadang bisa menjerumuskan. Biasanya jika baru diberikan pada masa adolesen, pendidikan harus terlebih dahulu menembus dan mengoreksi hal-hal salah yang dianggap benar(yang diperoleh dari berbagai pihak).

Perlu diingat bahwa ketika masih kanak-kanak, seseorang dapat menerima fakta mengenai seks secara wajar. Tidak ada anak kecil yang bingung , malu atau panas dingin menyaksikan kucing atau ayam yang kawin didepan matanya. Jika ketika itu ia mendapat penjelasan mengenai  masalah seks (tentu harus dengan metode yang tepat, mengenai hal yang dapat dicerna anak, dan lebih dari  itu, perlu dikaitkan dengan kasih sayang),maka ia akan menerimanya dengan penuh kewajaran, tidak diiringi dengan tertawa kecil atau wajah memerah.

Memasukkan Pendidikan Seks Dalam Kurikulum Sekolah

            Kesimpulannya pendidikan seks sangat penting di berikan kepada anak-anak (SMP-SMA), dalam mengantisiapasi maraknya remaja yang melakukan hubungan seks pranikah, seks bebas, menjadi korban pemaksaan hubungan seks, termasuk pemerkosaan. Mereka melakukan itu karena ketidak tahuan akan pendidikan seks, karena lingkungan rumah tangga dalam hal ini orang tua tidak membekali buah hatinya mengenai masalah tersebut. Demikian juga sekolah  tidak memberikan bekal pendidikan seks pada siswanya. Akibatnya, remaja tidak memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi berbagai perubahan, gejolak, dan masalah yang sering timbul di masanya. Maka, Pemerintah melalui Dina Pendidikan perlu memasukkan pendidikan seks dalam kurikulum sekolah, tentu saja dengan Modul yang tepat dan juga seorang guru/pengajar yang kompeten dalam pendidikan seks. Sebab tidak semua guru mampu dan punya pengetahuan tentang pendidikan seks. Inilah yang menjadi kendala . Paradigma lama yang masih melekat ,bahwa seks itu masih menjadi barang yang tabu  untuk di ajarkan pada siswanya. Itu harus mulai dirubah,agar anak-anak tidak terus penasaran. ’pendidkan seks tidak membuat penasaran, justru akan melindungi” kata seksologi dr Boyke Dian Nugraha kepada Detik com(29/11/2010).

Penulis : Sonhaji Mutiallah. M.MPd

Guru Biologi SMP Tamansiswa Prigen

E-Mail : Sonhaji.mutiallah@gmail.com

Jl. Raya no 48 Prigen. (0343)882274)/081333954053