KONGGRES XX PERSATUAN TAMANSISWA

PENDIDIKAN NASIONAL MENUJU KEMANDIRIAN BANGSA

Oleh : Ki. SONHAJI MUTIALLAH, M. MPd

Tanggal 7-9 Desember 2011, Keluarga besar persatuan Tamansiswa melaksanakan hajatan besar yang diadakan lima tahun sekali, yaitu konggres bersama. Konggres ini merupakan konggres xx Persatuan Tamansiswa yang bertempat di pendopo Agung Tamansiswa dan dihadiri oleh semua peserta konggres antara lain; Perguruan, Wanitas, PKBTS, Pemuda Tamansiswa dan undangan. Dihari itu adalah hari penentuan nasib Tamansiswa lima tahun ke depan, mau dibawah kemana nasib Tamansiswa ?

Perguruan tamansiswa didirikan oleh Ki Hadjar dewantara pada 3 Juni 1922 di Yogyakarta, berkembang mengikuti perkembangan alam dan zamanya. Pada usia 8 tahun, Perguruan Tamansiswa telah mencapai 52 buah tersebar di jawa, Sumatara dan Madura, dan mengadakan konggres pertama kali pada 7 s.d 13 Agustus 1930 di Yogyakarta. Keputusan konggres tersebut diantaranya membentuk persatuan Tamansiswa berpusat di Yogyakarta dengan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa sebagai pimpinan pusatnya. Perguruan-perguruan Tamansiswa di seluruh Indonesai dengan nama cabang-cabang Tamansiswa menjadi anggota Persatuan Tamansiswa, serta pidato Ki Hadjar Dewantara 3 Juli 1922 tentang keterangan asas dijadikan asas Tamansiswa 1922 dan merupakan paket yang tidak boleh di ubah selama Tamansiswa hidup terpakai. Selanjutnya untuk memenuhi ketentuan penyelenggaraan pendidikan harus berbentuk Yayasan bernama Persatuan Perguruan Tamansiswa. Berpusat di Mataram Yogyakarta, sebagai penyelenggara kesatuan antara Perguruan-perguruan Tamansiswa di seluruh Indonesia.Dengan demikian Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa adalah bentuk badan hukumnya Perguruan-perguruan Tamansiswa, berpusat di Yogyakarta memiliki perwakilan di cabang-cabang Tamansiswa. Yayasan persatuan Perguruan Tamansiswa menyelenggarakan pendidikan formal, informal dan nonformal.

Visi Perstuan Tamansiswa sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas sebagai sarana dalam upaya membangun masyarakat tertib damai, salam dan bahagia. Sedang Misi Perguruan Tamansiswa adalah melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, mewujudkan masyarakat tertib damai, salam dan bahagia, sesuai masyarakat adil dan makmur berdasrkan Pancasila, serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mempertajam daya cipta, rasa, dan karsa menuju pembangunan manusia merdeka lahir dan batin, berbudi pekerti luhur, serta tingginya harkat dan martabat kemanusiaan.

Konggres xx Persatuan Tamansiswa kali ini mengambil tema ”Pendidikan Nasional Menuju Kemandirian bangsa”. Kemandirian bangsa hanya dapat dicapai oleh warga bangsa yang berjiwa merdeka lahir batin. Dan kemerdekaan lahir batin sebuah bangsa ditandai dengan parameter berdaulat di bidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. Kepribadian dalam olah budaya hanya dapat dicapai dengan ”nation and character building” bagi seluruh siswa di tanah air, sedang nation and character building dapat dibangun melalui silabus pendidikan karakter yang sekarang banyak di cari dan di gandrungi praktisi pendidikan. Tamansiswa sebagai Perguruan Kebangsaan tetap konsisten dengan pendidikan karakter wawasan keindonesiaan. Bangsa yang kuat dimanapun pasti memulainya dengan penguatan karakter cirikhas bangsanya, sehingga mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia.Format pendidikan karakter bagi generasi Indonesia harus bertumpuh kepada falsafah negara pancasila yang telah beribu tahun mengakar di hati rakyat.

Perkembangan pendidikan nasional saat ini banyak yang belum selaras dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara selaku Bapak Pendidikan Nasional. Pendidikan Wawasan kebangsaan semakin terpinggirkan sehingga semangat bela bangsa tidak maksimal. Bangsa Indonesia harus pandai bersyukur akan nikmat kodrat alam berupa fakta-fakta yang terdapat di tanah air. Selain mengangkat issue tentang Pendidikan kemandirian Bangsa dan Pendidikan karakter, konggres xx juga dijadikan sebagai momentum untuk mengembalikan Tamansiswa ke khittahnya, sebagai pergerakan pendidikan kultural dan mengembalikan ruh perjuangan pergerakan Tamansiswa pada ajaran-ajaran luhur Tamansiswa. Lembaga ini harus tetap setia berjalan di rel yang diamanahkan pendiri Tamansiswa. Diera globalisasi saat ini banyak anggota masyarakat merisaukan pendidikan budi pekerti dengan banyaknya kasus-kasus antisosial yang berkembang di masyarakat dan pelakunya kebanyakan remaja atau anak-anak sekolah, yaitu ; perkelahian, terlibat narkoba, berani dengan orang tua, tidak peduli dengan masyarakat setempat dan performance yang tidak mencerminkan sebagai seorang berpendidikan. Disamping itu pelaksanaan pendidikan nasional yang menjadi basis penanaman karakter bangsa saat ini justru di privatisasi dan diliberalisasi sehingga bangsa asing boleh secara bebas menyelenggarakan pendidikan paling liberal. Dengan demikian karakter macam apa yang akan terbentuk melalui sistem pendidikan nasional kita. Bila ternyata bangsa asingpun diizinkan untuk turut membentuk karakter bangsa Indonesia.

Kini tamansiswa yang mempunyai 129 cabang yang tersebar di seluruh Inonesia, berada dalam pusaran perubahan zaman, yang menurut pengamatan penulis perkembangan Tamansiswa tidak signifikan, bahkan banyak cabang yang tutup dan kepercayaan masyarakat mulai berkurang terhadap keberadaan Tamansiswa. Inilah yang menjadikan pemikiran kita bersama khususnya keluarga besar Perguruan Tamansiswa. Oleh karena itu konggres xx Perguruan Tamansiswa yang berlangsung di yogya, 7-9 Desember 2011  ini menjadi semakin penting, agar Tamansiswa dapat menetapkan peran yang hendak diambil. Tamansiswa harus memilih ulang tugasnya yang tepat untuk mengantarkan bangsa Indonesia mengatasi berbagai perubahan khususnya dunia pendidikan yang semakin jauh dari cita-cita Bapak pendidikan nasional Ki. Hadjar Dewantara. Berbagai Perubahan saat ini telah melahirkan tantangan baru bagi Tamansiswa yang harus dijawab dengan merumuskan misi dan strategi baru yang lebih sesuai, utamanya merumuskan pengajaran budi pekerti luhur dan kepribadian nasional berdasarkan Pancasila dan UU 1945. Pendidikan dan pengajaran harus menjadikan anak-anak Indonesia haus Ilmu Pengetahuan, memiliki sikap mandiri, terampil, tenggungjawab dan mengutamakan nilai-nilai keluhuran budi dalam warna kepribadian Indonesai yang kuat. Jadi kesimpulannya konggres xx Tamansiswa tidak hanya ingin menjadika pendidikan Nasional yang mandiri, teapi Tamansiswa juga harus melakukan perubahan kalau ingin menjadi sebuah organisasi yang besar. Tamansiswa butuh kader-kader yang berjiwa Tamansiswa dan harus mengerti pedoman dasar Tamansiswa. Bukan sekedar kader bisa saja, karena kader seperti itu bisa luntur terpengaruh oleh globalisasi, pengaruh ekonomi. Sebenarnya diTamansiswa sendiri banyak pendatang yang tidak memikirkan ideologi Tamansiswa.

Kepengurusan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa ke depan perlu juga mengacu format yang ada, selain itu kepengurusan baru Tamansiswa harus membangun kader-kader berjiwa Tamansiswa. Agar kedepannya Tamansiswa lebih maju. Sejujurnya Tamansiswa masih kekurangan kader-kader yang berjiwa Tamansiswa. Faktor SDM di Tamansiswa harus menjadi perhatian serius, Tamansiswa harus mampu meningkatkan kualitas setiap kadernya di seluruh pelosok negeri ini, selain itu Tamansiswa tidak boleh resisten terhadap dunia luar. Langkah itu akan membesarkan Tamansiswa, kejayaan Tamansiswa kedepan berada di pundak seluruh warga Tamansiswa, baik mulai generasi muda ataupun tua. Semua ini harus jadi komitmen kita semua. Harus satu rasa untuk tujuan utama, sesuai yang di cita-citakan Ki Hadjar Dewantara, semoga..