PUASA RAMADHAN MEMBENTUK KARAKTER ANAK BANGSA

OLEH : KI. SONHAJI MUTIALLAH, M. MPd

(Diterbitkan Radar bromo, 28 Juli 2012)

Banyak pihak yang menilai bahwa proses pendidikan di Indonesia saat ini kurang memberi penekanan terhadap pembentukan karakter siswa. Pendidikan di Indonesia  masih dianggap lebih menekankan aspek kognitif semata. Munculnya berbagai peyimpangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini  ditengarai produk dari pola pendidikan yang mengabaikan pembangunan karakter peserta didik. Tentu saja penilaian ini dirasakan kurang adil karena  banyak faktor terkait dengan pembentukan karakter seorang anak. Namun demikian bagi lembaga pendidikan tentunya penilaian semacam ini dapat menjadi kritik guna melakukan  pembenahan  pola didik terhadap siswa. Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga(kemenegpora) telah menggulirkan program pembangunan karakter. Program ini difokuskan pada pendidikan karakter bagi generasi muda di Indonesia. Bahkan kemenegpora mengucurkan anggaran sekitar 10 miliar untuk pelaksanaan program itu, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Pemerintah merasa prihatin karena dewasa ini pendidikan karakter seringkali dilupakan. Akibatnya muncul berbagai permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, korupsi, kasus SARA, kemiskinan dan sebagainya.

Namun, berbicara masalah karakter seperti kita manaiki tangga yang tidak berujung dengan membawa beban yang berat. Artinya, tugas untuk membangun karakter ini tidak pernah selesai melainkan harus selalu diulang, diingatkan dan dibina terus-menerus dan perlu keteladanan semua pihak, baik orangtua, guru, dan masyarakat.

Membangun karakter idealnya dimulai dari usia dini karena pada usia seperti itu pemahaman konsep dan penanaman nilai mudah diberikan dan anak belum banyak terpengaruh oleh polusi lingkungan sekitarnya.

Karakter seseorang secara umum dapat terwujud dalam perilaku cerdas, jujur, peduli, dan tangguh. Kecerdasan seorang anak akan terlihat ketika dapat mengamati perbedaan maupun fakta yang ada di sekitarnya. Intinya kecerdasan adalah kemampuan untuk mengamati dan membuat analisa dari setiap masalah yang dihadapi. Kecerdasan merupakan hasil dari olah cipta seseorang.

Aspek jujur dalam perilaku anak adalah berani berkata apa adanya dan berpikir lurus. Keteladanan orangtua sangat penting karena anak sudah terbiasa berkata dan berperilaku jujur sejak dari rumah. Aspek jujur ini merupakan hasil dari olah karsa yang dimiliki seorang anak.

Seorang anak yang memiliki sifat peduli sangat disenangi teman-temannya karena anak tersebut memiliki tingkat perhatian yang tinggi dan mau berbagi kesenangan dengan sesama. Anak harus dilatih untuk memiliki sifat empati artinya ikut merasakan apa yang orang lain rasakan. Aspek peduli ini merupakan pengembangan dari olah rasa seorang anak.

Disamping itu, anak harus dibina untuk berani mengatakan sesuatu dan tidak cengeng serta tidak terlalu banyak menuntut tapi bisa berprestasi. Aspek yang demikian memiliki ketangguhan yang merupakan hasil dari olah rasa pada diri anak. Kita percaya dengan membangun karakter yang baik sejak dini akan menumbuhkan generasi yang smart, amanah dan dapat membawa bangsa ini menuju yang lebih baik.

Bulan Ramadhan tampaknya momen yang baik bagi sekolah guna menyelenggarakan kegiatan yang dapat membangun karakter positif siswa. Salah satu kegiatan yang rutin di bulan Ramadhan adalah Pesantren kilat atau Pondok Ramadhan. Pada acara Pondok Ramadhan ini diisi dengan kegiatan keagamaan, mulai shalat , tadarus/ baca alquran, cerama agama oleh guru agama di sekolah atau mendatangkan Ustat  dari luar sekolah, lomba membuat kaligrafi, puisi, cerdas –cermat dan banyak lagi kegiatan lain yang bernuansa islami yang kreatif dan mendidik. Melalui Pesantren kilat guru dapat memasukkan nilai-nilai positif kepada siswa. Keterlibatan guru dalam kegiatan inidapat menjadi  motivasi untuk meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosial sehingga menjadi sosok yang pantas  menjadi teladan bagi siswanya.

Di bulan Ramadhan dengan berpuasa  siswa diajak meningkatkan rasa empati dan simpati kepada sesama yang nasibnya belum beruntung. Bukankah dengan berpuasa mereka juga merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan. Dengan demikian diharapakan tumbuh dalam diri siswa  kepekaan sosial untuk saling berbagi. Melalui puasa, siswa diajak agar mempunya kepribadian yang sabar, tahan terhadap godaan dan menjunjung tinggi kejujuran.

Penanaman sikap toleransi di bulan Ramadhan tentunya sangat diperlukan. Siswa yang tidak menjalankan ibadah puasa menghormati kepada siswa yang berpuasa. Sebaliknya siswa yang berpuasa hendaknya tidak mencela kepada siswa yang tidak berpuasa  karena alasan keyakinan atau alasan lainnya.  Di sini sikap saling menghormati , toleransi dan cinta damai selalu dibina.

Munculnya sikap-sikap merasa benar sendiri, menganggap orang yang tidak sepaham sebagai lawan yang layak diperangi  perlu diwaspadai oleh para guru. Melalui penanaman nilai-nilai agama secara benar dan kesadaran tentang adanya keberagaman dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, siswa diajak untuk lebih toleran dan cinta damai.

Di akhir Ramadhan sekolah dapat  menyelenggarakan kegiatan pembagian zakat fitrah dengan melibatkan siswa. Melalui kegiatan ini siswa di asah kecerdasan sosialnya. Sikap kasih sayang, peduli terhadap sesama perlu ditunjukkan dengan kegiatan nyata. Dengan melibatkan siswa dalam pengumpulan dan pembagian zakat fitrah siswa belajar bagaimana mereka berinteraksi sosial terhadap lingkungan di sekitar sekolah. Dalam kegiatan ini siswa juga dilatih mengorganisasi sebuah kegiatan sosial kegamaan dan mendalami kehidupan sesama yang kurang  mampu.

Bagi sekolah tampaknya tidak sepantasnya bulan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa kegiatan yang  yang bermanfaat. Bulan Ramamadhan merupakan momen yang tepat sekolah melakukan kegiatan-kegiatan yang mampu memperbaiaki karakter siswa.

Allah dengan sengaja mendesain ibadah puasa sebagai wadah untuk riyadhah(pelatihan); artinya melatih diri untuk dapat menghindar dari sikap, sifat dan perbuatan yang dibenci Allah. Tujuan utama dari puasa ini yaitu menjadikan insan takwa.Takwa adalah perbuatan hamba yang senantiasa menjaga dirinya dari kemarahan/azab Allah. Takwa merupakan buah keimanan yang tulus dan ikhlas kepada Allah disertai dengan amal shalih sehingga masuk kategori muflihun(orang-orang yang beruntung) bukan khasirun (kelompok yang merugi).

Karakteristik orang bertakwa disebutkan lagi dengan rinci dalam firman-Nya QS. Al-Baqarah:177. ” bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Bahwa yang dikatakan takwa kepada Allah itu tidak cukup dengan sekedar melaksanakan shalat, namun diiringi dengan perbuatan baik atau kebajikan seperti bunyi ayat di atas. Yang demikianlah yang disebut dengan orang yang memiliki karakter Qurani.

Mudah-mudahan dengan Puasa Ramadhan akan tumbuh  anak bangsa yang berkarakter positif dan berkarakter Qurani yang nantinya diharapkan mampu membawa bangsa ini kepada bangsa yang bermartabat. Bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran, toleransi, anti korupsi dan cinta damai.

 

Penulis

Kepala sekolah SMP Taman Dewasa Prigen

Hp: 081333954053