Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

TETES AIR MATAKU SEBAGAI TANDA PENGAMPUNAN DOSA

Sebagai seorang lelaki aku jarang untuk bersikap cengeng dan pantangan untuk menangis. Sebagai mana orang tuaku mengajari aku. Aku masih ingat waktu kecil bapak memarahi aku , ketika aku menangis. Sebagai lelaki kamu jangan cengeng, nangisan, kamu harus tegar, jangan takut pada apapun dan pada siapapun. Itu sudah ku buktikan sekarang, menangis itu pantangan dan tidak pernah kecuali waktu kedua orangtuaku  meninggal.

Kemarin malam SMP Taman Dewasa dan SMA Taman madya Prigen , melaksanakan Latian dasar kepemimpinan bagi ketua dan anggota PPTS Perguruan Tamansiswa Prigen yang baru dilantik. Habis shalat Isyak aku kunjungi siswa- siswi yang melakukan LDKS di bumi perkemahan Kakek Bodoh Tretes. Aku dampingi bersama beberapa Bapak/ Ibu  Pamong dan juga kakak Pembina. Acara demi acara aku perhatikan, yang menurutku tepat untuk dilakukan pada calon PPTS, agar kelak nanti menjadi seorang Pemimpin, yang tahan banting baik fisik maupun mentalnya, tidak cengeng, tegar menghadapi segala permasalahan, jujur dan bertanggung jawab. pokoknya , All it’s Ok. Harus terus di laksanakan.

Hingga di puncak acara, pukul 23.00. Pembina mengadakan acara renungan,semua siswa-siswi mengitari indahnya cahaya api unggun yang menghangati tubuh di kegelapan malam. Dinginnya suhu dimalam hari ,dan hembusan angin di kaki gunung Arjuna yang menusuk-nusuk tulang tak mengurangi semangat untuk mengikuti acara renungan. Dengan disaksikan indahnya kerlap -kerlip bintang di langit dan cantiknya cahaya rembulan, juga pohon-pohon dan tentu di saksikan Sang khalik.

Hening , suasana benar-benar hening, semua siswa  diam membisu , tak satu katapun terucap, aku pun demikian, di belakang anak -anak  aku juga tutup mulut, kupusatkan pikiranku hanya padanya sang khalik. Hening… dan sunyi, sepi seakan aku duduk di alam yang luas sendirian, dan aku tidak ada apa-apany… Ya Allah.

Ketika salah satu Pembina mulai terucap ayat-ayat indah di keheningan malam” Ashadu allah Illa ha Illallah, wa ashaduanna muhammadarrasullallah” ber kali-kali, sambil mengingat ingat dosa-dosa pada kedua orang tua. Inilah tangisanku yang terhebat untuk yang kedua kali, tiba-tiba aku tak mampu membendung deraian air mataku, satu…dua… tiga… bahkan ratusan …. Buliran airmataku terus membasahi pipiku, hingga aku sesenggukan. Ketika salah satu Pembina memintaku untuk memberikan sambutan di hadapan anak-anak, kembali aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa ucapkan salam, setelah itu kembali aku menangis sejadi jadinya… lalu ku akhiri sambil mengucapkan maaf pada anak-anak.

Cengengka aku malam itu, bersandiwara kah aku menangis di hadapan public/ anak-anakku.Tidak, itulah kenyataannya, Pantangan tidak cengeng dan tidak menangis terkalahkan oleh sifat emosional, kenangan akan penyesalan dan dosa-dosa yang pernah ku lakukan pada kedua orang tuaku. Aku merasa orang yang paling berdosa malam itu hingga tak kuasa menahan tangisan. Semoga Tetes air mataku di acara Renungan Malam LDKS itu sebagai Tanda pengampunan Dosa. Dan mudah-mudahan tulisan ini sebagai renungan buat anak-anakku, juga siswa-siswaku  , bahwa  jangan kau lakukan dosa-dosa pada orang tua mu, berbuat baiklah pada orang tuamu sebelum Allah mengambilnya. Sehingga kau tidak akan menyesal…Semoga.